Tulis & Tekan Enter
images

KPPU: Jelang Lebaran, Mayoritas Komoditas Alami Kenaikan, Tetap Stok Terpantau Aman

Kaltimkita.com, JAKARTA– Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) kembali melakukan survei pemantauan komoditas pangan di pasar tradisional dan pasar modern menjelang Hari Raya Idul Fitri. Survei ini merupakan kelanjutan dari survei yang telah dilakukan di masa awal Ramadhan, dengan tujuan untuk memastikan bahwa dinamika harga dan ketersediaan komoditas pangan di pasar tetap dalam kondisi yang wajar dan masyarakat tetap terlindungi dari potensi praktik spekulasi atau tindakan oknum yang menyalahgunakan momentum hari besar. Dari survei dan analisis komparasi dengan awal Ramadhan, KPPU menyimpulkan bahwa mayoritas komoditas pangan mengalami kenaikan harga, namun hampir keseluruhan stok komoditas tersedia di pasar. Dua komoditas, yakni cabai rawit dan bawang putih, mengalami kenaikan yang signifikan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, kenaikan dinilai wajar sebagai dampak dari tingginya permintaan atas komoditas pangan jelang Hari Raya Idul Fitri dan belum ditemukan adanya indikasi persaingan usaha tidak sehat dalam pemasokan komoditas tersebut.  

Untuk lengkapnya, survei dilakukan di pasar modern dan tradisional berlokasi di 7 (tujuh) Kantor Wilayah KPPU, yaitu di Medan, Lampung, Bandung, Surabaya, Samarinda, Makassar, dan Yogyakarta. Pemantauan dilakukan terhadap harga berbagai komoditas pangan dan perbandingannya dengan Harga Acuan Penjualan (HAP) atau Harga Eceran Tertinggi (HET) dari Badan Pangan Nasional, serta komparasinya dibandingkan harga di awal Ramadhan.  

Survei tersebut mencatat beberapa fakta berikut:  

1.       Harga beras medium mengalami kenaikan dan berada di atas HET di seluruh wilayah survei. Harga tertinggi tercatat di Samarinda (Rp14.400/kg), sementara harga terendah ada di Lampung (Rp13.216/kg). Di pasar modern, beberapa daerah mengalami kekosongan stok beras medium. Untuk beras premium, harga relatif stabil dengan kisaran Rp14.900 – Rp15.916/kg, dengan harga tertinggi di Surabaya (Rp15.795/kg) dan harga terendah di Lampung serta Bandung (sesuai HET).  

2.       Harga telur ayam di pasar tradisional bervariasi, dengan kenaikan harga di Bandung, Makassar, dan Samarinda. Harga tertinggi tercatat di Samarinda (Rp32.150/kg) dan terendah di Surabaya (Rp27.050/kg). Di pasar modern, harga telur berkisar antara Rp25.900 – Rp40.666/kg, dengan harga tertinggi di Makassar dan terendah di Yogyakarta. Secara umum, stok telur ayam terpantau aman.  

3.       Harga daging ayam cenderung stabil dan berada di bawah atau sedikit di atas HET. Harga tertinggi ditemukan di Samarinda (Rp42.250/kg), sedangkan harga terendah berada di Makassar (Rp31.250/kg). Stok daging ayam terpantau cukup di pasar tradisional dan modern.  

4.       Harga daging sapi di pasar tradisional berkisar antara Rp120.000 – Rp168.600/kg, dengan harga tertinggi di Samarinda dan terendah di Surabaya. Di pasar modern, harga bervariasi antara Rp131.450 – Rp156.583/kg. Stok daging sapi tetap tersedia di semua wilayah survei.  

5.       Harga bawang putih di seluruh pasar tradisional melampaui HAP, dengan harga tertinggi di Makassar (Rp47.500/kg). Di pasar modern, harga tertinggi tercatat di Samarinda (Rp63.750/kg). Kenaikan harga bawang putih diperkirakan terjadi akibat kenaikan harga dari tingkat importir dan distributor.  

6.       Harga bawang merah mengalami kenaikan signifikan, dengan harga tertinggi di pasar tradisional tercatat di Bandung (Rp52.666/kg). Di pasar modern, harga tertinggi ditemukan di Samarinda (Rp64.950/kg). Stok bawang merah di beberapa wilayah seperti Samarinda dan Yogyakarta dilaporkan menipis. 

7.       Harga minyak goreng curah dan Minyak Kita masih berada di atas HET. Harga minyak goreng kemasan di pasar modern berkisar antara Rp20.258 – Rp29.150/liter.  

8.       Harga cabai merah di pasar tradisional berkisar antara Rp37.000 – Rp67.250/kg, dengan harga tertinggi di Samarinda. Di pasar modern, harga tertinggi tercatat di Samarinda (Rp144.900/kg). Beberapa daerah mencatat kenaikan harga yang signifikan di atas HAP.  

9.       Harga cabai rawit mengalami lonjakan signifikan, terutama di Bandung (Rp115.000/kg) dan Samarinda (Rp167.450/kg). Kenaikan harga cabai rawit terjadi di hampir seluruh wilayah survei.  

10.    Harga gula pasir curah sedikit di atas HET di beberapa kota, dengan kisaran harga Rp17.325 – Rp19.375/kg. Stok gula pasir tetap tersedia.  

11.    Harga tepung terigu curah di pasar tradisional berkisar antara Rp8.000 – Rp12.400/kg. Untuk tepung terigu kemasan, harga berada di rentang Rp11.474 – Rp13.780/kg. Harga tepung terigu relatif stabil. 

Dari data di atas diketahui bahwa cabai rawit mengalami kenaikan signifikan hampir diseluruh wilayah Indonesia. Terutama di Bandung dimana harga di pasar tradisional mencapai Rp 115.000/ Kg atau naik sebesar 53% dari harga saat awal Ramadhan, sementara di pasar modern juga mengalami kenaikan dengan harga kenaikan tertinggi di wilayah Samarinda yaitu mencapai Rp 167.450/Kg, di susul Bandung dan Yogyakarta. Bawang putih jugamengalami kenaikan harga yang signifikan dari saat awal Ramadhan, dengan kisaran kenaikan harga tertinggi sebesar Rp 8.000/Kg. Khususnya di wilayah Surabaya, Makasar dan Yogyakarta dengan variasi harga jual Bawang Putih sebesar Rp 42.000 sampai Rp 47.500/Kg. Sementara di pasar modern, kenaikan signifikan tercatat di wilayah Medan, Lampung, Makasar dan Yogyakarta dengan rentang harga jual berkisar Rp 46.000 sampai Rp 63.000/ Kg. Kenaikan harga bawang putih tersebut diduga disebabkan oleh kenaikan harga di tingkat importir dan distributor. 

Dari sisi stok, tercatat mayoritas terpantau tersedia di pasar tradisional dan pasar modern di seluruh wilayah Indonesia, sehingga kebutuhan masyarakat masih dapat terpenuhi tanpa adanya indikasi kelangkaan. Keterbatasan stok hanya terjadi atas bawang merah di pasar tradisional wilayah Yogyakarta dan Samarinda. Sementara di pasar modern di wilayah Surabaya dan Yogyakarta, keterbatasan stok terjadi pada beras medium.  

Menindaklanjuti hasil survei tersebut, KPPU akan terus mendalami dan melakukan pengawasan untuk memastikan apakah kenaikan-kenaikan harga yang terjadi disebabkan karena mekanisme pasar atau perilaku anti persaingan usaha. Selain melakukan pengawasan secara langsung, KPPU juga berkolaborasi dengan berbagai stakeholder dalam upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok komoditas pangan. Hal ini merupakan dukungan KPPU terhadap Asta Cita Presiden Nomor 2 yaitu: yaitu:  Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. 

“Dengan adanya kolaborasi antar pihak, diharapkan masyarakat mendapat jaminan ketersediaan pasokan komoditas di pasar dengan harga yang masih wajar. Sehingga masyarakat tetap dapat merayakan Idul Fitri secara hikmat dan menyenangkan”, tutup Anggota KPPU, Eugenia Mardanugraha. (*)


TAG

Tinggalkan Komentar