Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Pria berinisial W (58) yang sempat menggegerkan warga setelah membawa parang di atas atap rumah warga di Balikpapan Utara, Selasa (2/6/2026), dititipkan di Rumah penampungan sosial kepunyaan Dinsos Balikpapan.
Ditemui sesaat masih menjalani perawatan di Puskesmas Graha Indah, W tidak banyak menjelaskan insiden yang telah melukai seorang polisi dan warga itu.
Ia seakan mengalihkan pembicaraan atau bahkan tidak mengingat secara rinci peristiwa yang membuat dirinya diamankan setelah berada di atas atap rumah warga.
Ketika ditanya mengenai kejadian tersebut, alih-alih menjawab lugas, W memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh. "Itu sudah dilewatkan saja. Gitu aja. Jadi enak kita hidupnya," celetuk W.
Menurutnya, peristiwa yang telah terjadi sebaiknya ditinggalkan dan tidak terus-menerus dipersoalkan. Ia mengaku ingin menjalani kehidupan dengan memulai lembaran baru.
"Yang lalu biarlah berlalu, jadi kita cari lembaran baru," besit W pelan.
W juga menyinggung kondisi kesehatan yang selama ini dihadapinya. Ia menilai sakit maupun rezeki merupakan bagian dari ketentuan Tuhan yang harus diterima.
Meski sempat menjadi perhatian publik, W mengaku tidak ingin larut dalam peristiwa tersebut. Ia lebih memilih fokus menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa.
"Karena semua ini rezeki dari Yang Maha Kuasa, sakit sama rezeki," tuturnya.
Terpisah, adik kandung W, Endang, yang kini menetap di Kediri, membenarkan kakaknya memiliki riwayat gangguan kejiwaan.
Ia mengatakan W pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Rajiman Wediodiningrat, Lawang, Malang, Jawa Timur. Menurutnya, keluarga telah beberapa kali membantu proses pengobatan W.
Namun, dokumen kontrol kesehatan biasanya disimpan sendiri oleh W saat dirinya kembali ke Balikpapan.
"Dia biasanya membawa sendiri kartu kontrol, saya nggak tahu juga disimpan di mana," kata Endang, melalui sambungan telepon.
Di sisi lain, Lurah Graha Indah, Muhammad Arif Rahman, mengatakan W saat ini hanya ditampung sementara di penampungan Dinsos Balikpapan.
"Ini kan dibawa ke rumah singgah, bukan rumah untuk menetap seperti tempat tinggal permanen," ujarnya.
Menurut Arif, fasilitas tersebut hanya diberikan dalam waktu terbatas. Pihaknya berharap keluarga maupun pihak terkait dapat membantu penanganan berikutnya.
Ia juga mengungkapkan keluarga sebenarnya bersedia menerima W kembali.
Namun, hingga kini W disebut belum bersedia kembali ke Jawa. "Intinya keluarga itu mengajak, tetapi dia tidak mau ke Jawa," kata Arif.
Arif menambahkan W sempat berada dalam kondisi stabil cukup lama. Kekambuhan terakhir disebut terjadi sekitar Januari atau Februari tahun ini.
"Terakhir kambuh berarti awal tahun, Januari-Februari. Lumayan lama," ujarnya. (zyn)


