Kaltimkita.com, SAMARINDA — Euforia ribuan suporter yang memadati Stadion Segiri Samarinda dalam laga Persija Jakarta kontra Persib Bandung, Minggu (10/5/2026) sore, ternyata diwarnai persoalan di luar lapangan. Aparat kepolisian mengungkap dugaan peredaran tiket palsu yang menyebabkan sejumlah penonton gagal masuk ke stadion.
Kericuhan kecil sempat terjadi di beberapa pintu masuk stadion di Jalan Kusuma Bangsa itu. Sejumlah penonton mengaku telah membeli tiket, namun tiket yang mereka pegang tidak bisa digunakan saat proses pemindaian barcode di gate masuk.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Agus Setyawan mengatakan, pihaknya langsung bergerak melakukan penyelidikan setelah menerima laporan dari masyarakat di lokasi pertandingan.
“Berkaitan dengan masalah di pintu masuk atau gate, ada beberapa masyarakat yang merasa dirugikan karena tiket yang mereka gunakan ternyata tidak bisa dipakai masuk,” kata Agus kepada wartawan, Selasa (12/5/2026).
Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan adanya perbedaan warna tiket yang seharusnya menjadi penanda masing-masing pintu masuk stadion.
“Kami mengetahui ada beberapa warna tiket yang mencerminkan masing-masing gate. Yang paling banyak ditemukan bermasalah itu di Gate 17 dan Gate 19, khususnya tiket berwarna hitam,” ujarnya.
Menurut Agus, banyak penonton awalnya meyakini tiket tersebut asli karena bentuk fisiknya menyerupai tiket resmi pertandingan. Namun saat dipindai petugas, tiket itu tidak terdaftar dalam sistem.
“Masyarakat sudah yakin bisa masuk, tetapi setelah dilakukan pengecekan ternyata tidak bisa digunakan. Sehingga mereka merasa dirugikan,” katanya.
Polisi kemudian melakukan penelusuran di sekitar stadion dan mengamankan beberapa orang yang diduga terlibat dalam praktik penjualan tiket ilegal tersebut.
“Hasil penyelidikan sementara, kami menetapkan empat orang sebagai tersangka,” ungkap Agus.
Dari empat orang yang diamankan, dua di antaranya diduga sebagai aktor intelektual atau otak pelaku peredaran tiket palsu. Sedangkan dua lainnya berperan membantu proses distribusi tiket kepada calon pembeli di sekitar stadion.
Agus mengungkapkan, dua pelaku utama tersebut berkoordinasi dengan dua perempuan yang merupakan bagian dari panitia pelaksana pertandingan di sektor pengelolaan tiket.
‘’Salah satunya membeli tiket asli, kemudian dilakukan pencetakan ulang tiket pada pagi hari saat pertandingan berlangsung,” jelasnya.
Setelah dicetak ulang, tiket-tiket tersebut kemudian diserahkan kepada dua pria untuk diedarkan dan dijual kepada masyarakat.
“Selanjutnya tiket diberikan kepada dua laki-laki untuk disebarluaskan dan dijual kepada penonton di sekitar stadion,” katanya.
Harga tiket palsu itu dijual bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp130 ribu per lembar. Polisi menduga jumlah tiket yang telah beredar lebih banyak dibanding barang bukti yang berhasil diamankan.
“Tiket yang kami amankan sekitar 120 lembar lebih. Ada yang masih berada di tangan pelaku, ada juga yang diduga sudah terjual,” ujar Agus.
Meski demikian, polisi belum dapat memastikan jumlah pasti tiket palsu yang sudah beredar di masyarakat. Sebab tidak semua korban melapor kepada aparat kepolisian.
“Ada masyarakat yang memberikan informasi kepada kami, ada juga yang tidak. Jadi masih dalam proses pendalaman,” tuturnya.
Selain mengamankan empat tersangka, penyidik juga mendalami keterlibatan pihak percetakan yang digunakan untuk memproduksi tiket tersebut.
“Untuk percetakan masih kami dalami. Apakah mereka mengetahui tiket itu akan digunakan untuk apa atau tidak, itu masih proses penyelidikan,” tegas Agus.
Keempat pelaku yang diamankan diketahui merupakan warga Samarinda. Hingga kini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut guna mengungkap kemungkinan adanya jaringan lain dalam praktik penjualan tiket palsu laga Persija kontra Persib di Stadion Segiri.(Hyi)

.jpg)
