Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Pengendara yang melintas di Jalan Syarifuddin Yoes, tepatnya di simpang tiga BJBJ dekat Kantor Pengadilan Agama Balikpapan, sudah hapal betul kondisi jalan itu.
Pantauan di lokasi pada Jumat (8/5/2026) memperlihatkan aspal yang sebelumnya digunakan untuk menutup kerusakan kembali retak dan menurun di beberapa titik.
Permukaan jalan tidak rata, badan jalan bergelombang, dan papan peringatan bertuliskan "Hati-Hati Kurangi Kecepatan Ada Jalan Amblas 50 M ke Depan" sudah terpasang di sisi jalan. Kendaraan dari sepeda motor hingga truk merayap pelan saat melintas.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur, Yudi Hardiana, memastikan kerusakan ruas Jalan Syarifuddin Yoes di kawasan simpang tiga BJBJ Balikpapan tidak lagi ditangani dengan tambal sementara.
Pihaknya kini menyiapkan perbaikan permanen untuk mengatasi jalan bergelombang dan patahan yang terus muncul di lokasi tersebut.
Yudi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Balikpapan terkait langkah penanganan jalan amblas dekat Kantor Pengadilan Agama Balikpapan itu.
“Betul, kami telah berkolaborasi dengan Dinas PU Balikpapan dan saat ini sudah dalam tahapan pembahasan. Penanganannya akan dilakukan oleh Dinas PU Kota Balikpapan,” ujar Yudi, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, penanganan kali ini akan menggunakan metode bore pile sebagai upaya memperkuat struktur tanah di bawah badan jalan. Metode tersebut dipilih agar kerusakan yang berulang di titik yang sama tidak terus terjadi.
“Dalam bulan ini akan dilakukan penanganan permanen berupa bore pile,” katanya.
Yudi memperkirakan proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Selama masa perbaikan berlangsung, arus kendaraan di kawasan tersebut juga akan diatur melalui rekayasa lalu lintas. “Ada rekayasa dari kepolisian dan perhubungan,” tambahnya.
Ruas Jalan Syarifuddin Yoes di simpang tiga BJBJ sebelumnya menjadi perhatian karena kondisi badan jalan yang kembali bergelombang meski sempat diperbaiki.
Sebelumnya, Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Balikpapan sekaligus Forensic Engineer, Aco Wahyudi, mengungkapkan kerusakan jalan di kawasan tersebut diduga dipicu kondisi tanah jenuh akibat kebocoran utilitas bawah tanah.
Dari hasil investigasi visual yang dilakukan pada 2024, ditemukan adanya aliran air di sisi lereng bahu jalan yang berasal dari kebocoran pipa PDAM.
Kondisi itu menyebabkan terbentuknya kantung air di area lereng dan memicu penurunan tanah secara bertahap.
Selain itu, hasil pengujian geolistrik terbaru juga menunjukkan adanya lapisan tanah jenuh pada kedalaman 4 hingga 6 meter.
Menurut Aco, kondisi tersebut memperlemah daya ikat tanah sehingga badan jalan mudah mengalami penurunan, terutama karena lokasi berada di area lereng dengan beban lalu lintas yang cukup tinggi.
Ia menilai penanganan sebelumnya masih bersifat sementara karena hanya berupa leveling atau perataan permukaan jalan agar tetap dapat dilalui kendaraan sambil memantau perkembangan penurunan tanah di lokasi tersebut. (zyn)


