KaltimKita.com, BALIKPAPAN — Tuntas sudah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) di Hotel Gran Senyiur, Jumat (1/5/2026). Sejumlah keputusan strategis dihasilkan demi mendorong transformasi organisasi sekaligus pembinaan prestasi tenis nasional ke depan.
Kepada awak media, Ketua Umum PP Pelti, Nurdin Halid, mengatakan, salah satu keputusan penting dalam Rakernas adalah perubahan Anggaran Dasar, khususnya terkait struktur organisasi. Menurutnya, Pelti kini tidak lagi menggunakan model kepengurusan seperti organisasi kemasyarakatan, melainkan mengadopsi sistem executive committee (exco) seperti yang diterapkan di sepak bola.
“Dengan sistem exco ini, organisasi akan lebih efisien dan efektif. Exco bertugas merumuskan kebijakan, sementara pelaksanaan dijalankan oleh badan-badan yang dibentuk,” ujar Nurdin Halid.
Ia optimistis, perubahan tersebut akan mempercepat terwujudnya visi menjadikan tenis sebagai industri dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, sebagaimana transformasi yang pernah dilakukan di PSSI.
Selain itu, Rakernas juga menyepakati perbaikan sistem prakualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) yang selama ini dinilai belum seimbang antarwilayah. Ke depan, sistem kualifikasi akan mengacu pada indikator prestasi atlet di masing-masing daerah.

“Selama ini ada ketimpangan, misalnya di Pulau Jawa persaingan sangat ketat karena berada dalam satu wilayah. Ke depan, akan dibuat lebih seimbang berdasarkan indikator prestasi,” jelasnya.
Pelti juga menetapkan pembatasan bagi atlet nasional yang telah berprestasi di level internasional. Atlet tersebut hanya diperbolehkan mewakili satu provinsi dan bertanding pada satu nomor.
“Kalau memilih tunggal, maka hanya boleh di tunggal, tidak bisa lagi bermain di ganda atau nomor lainnya. Ini untuk menjaga pemerataan dan pembinaan,” tegas Nurdin.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut diharapkan mampu menciptakan kompetisi yang lebih sehat dan berorientasi pada pembinaan atlet daerah, khususnya menuju PON 2028.
Di sisi lain, mantan Ketua Umum PSSI ini juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur tenis. Ia mengungkapkan bahwa selama ini tenis belum menjadi prioritas dalam program nasional, namun ke depan akan masuk dalam revisi kebijakan pembinaan prestasi.
“Kita belum memiliki stadion tenis bertaraf internasional. Dengan adanya revisi Perpres perihal DBON yang menjadikan sebagai cabor unggulan, tentunya menjadi angin segar dengan dukungan pemerintah yang dapat, menghadirkan fasilitas internasional demi mendatangkan pemain dunia yang bisa memotivasi generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pengprov Pelti Kalimantan Timur, Wahyu Hernaningsih Seno, menyambut positif hasil Rakernas tersebut. Ia menilai, keputusan yang dihasilkan menjadi pijakan penting untuk meningkatkan pembinaan tenis di daerah.
“Rakernas berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang menjadi tolok ukur kemajuan Pelti ke depan. Pembinaan, zonasi, serta penguatan atlet junior harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya akan mendorong pembinaan atlet usia dini agar lebih terarah dan mampu bersaing di ajang nasional, termasuk PON mendatang. (and)


