Kaltimkita.com, SAMARINDA – Di tengah sorotan terhadap industri kelapa sawit yang kerap dikaitkan dengan isu lingkungan, PT Palma Serasih Tbk (PSGO) justru mengambil langkah berbeda dengan menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit terintegrasi ini tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Palma Serasih Tbk, Astrida Niovita Bachtiar, mengatakan perseroan secara konsisten mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam seluruh lini operasionalnya.
“Komitmen kami tidak hanya pada efisiensi operasional, tetapi juga bagaimana menghadirkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujar Astrida dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, Palma Serasih saat ini mengelola area tertanam inti dan plasma seluas lebih dari 28.000 hektare yang tersebar di Kalimantan Timur. Dalam pengelolaannya, perusahaan memastikan adanya keseimbangan antara kegiatan produksi dan perlindungan ekosistem.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mengalokasikan kawasan dengan nilai konservasi tinggi untuk dilindungi dari aktivitas perkebunan.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan pendekatan pengelolaan bentang alam secara kolaboratif, termasuk di kawasan strategis Wehea-Kelay yang dikenal sebagai salah satu habitat penting satwa liar.
“Dalam aspek lingkungan, kami tidak hanya menjaga area yang kami kelola, tetapi juga terlibat dalam upaya perlindungan lanskap yang lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.
Upaya tersebut diperkuat melalui kemitraan dengan sejumlah organisasi konservasi, di antaranya Borneo Orangutan Survival Foundation dan The Nature Conservancy.
Kerja sama ini difokuskan pada perlindungan satwa endemik Kalimantan, khususnya orangutan, yang populasinya terus terancam akibat kehilangan habitat.
Astrida menuturkan, program konservasi yang dijalankan mencakup rehabilitasi habitat hingga pelepasliaran orangutan ke alam liar.
“Kami mendukung berbagai inisiatif konservasi, termasuk rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan perusahaan,” ujarnya.
Berdasarkan data dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), sejak 2012 lembaga tersebut telah melepasliarkan lebih dari 500 individu orangutan ke habitat alaminya, seperti di Hutan Lindung Bukit Batikap dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Selain itu, BOSF juga mengelola pusat rehabilitasi untuk orangutan yang tidak memungkinkan kembali ke alam liar, misalnya karena kondisi kesehatan atau cacat permanen.
Sementara itu, The Nature Conservancy (TNC) berfokus pada perlindungan hutan hujan Kalimantan yang menjadi rumah bagi berbagai spesies langka, termasuk orangutan.
Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di tengah tekanan pembangunan.
Menurut Astrida, pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai sendiri. Dibutuhkan sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan organisasi lingkungan,” katanya.
Langkah Palma Serasih ini menunjukkan bahwa industri perkebunan tidak selalu identik dengan eksploitasi sumber daya alam. Dengan penerapan prinsip ESG yang konsisten, perusahaan berupaya membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk memastikan bahwa operasional perusahaan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berdampak positif bagi generasi mendatang,” pungkas Astrida. (hyi)


