Kaltimkita.com, SANGATTA – Dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) kembali menggelar Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) pada Rabu (30/10/2024). Rapat yang dipimpin oleh Achmad Junaidi B, Sekretaris TPPS sekaligus Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB), mempertemukan berbagai pihak untuk menyelaraskan langkah strategis demi mewujudkan Kutim bebas stunting.
Pjs Bupati Kutim H Agus Hari Kesuma, melalui sambutan tertulis, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengoptimalkan penyusunan Peraturan Bupati tentang Percepatan Penurunan Stunting (PPS) 2024.
“Sinergi yang kuat diperlukan agar regulasi ini menjadi acuan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah hingga tingkat desa, dalam menurunkan prevalensi stunting,” ujar Agus.
Dalam rapat tersebut, Achmad Junaidi memaparkan inovasi baru bernama "Cap Jempol Stunting", sebuah program edukasi langsung yang ditujukan kepada kelompok sasaran utama, seperti remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Intervensi langsung ini memungkinkan kader lapangan memberikan edukasi tentang pentingnya gizi seimbang dan pola asuh sehat secara personal kepada keluarga berisiko,” jelasnya.
Selain edukasi, program pemenuhan gizi seimbang, fortifikasi makanan, serta peningkatan akses sanitasi dan air bersih menjadi fokus utama untuk mengurangi risiko stunting.
Hasil intervensi tersebut sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Berdasarkan data e-PPGBM, prevalensi stunting di Kutim menurun drastis dari 29 persen pada 2023 menjadi 16,94 persen pada Juni 2024, dan semakin menurun hingga 15,7 persen pada September 2024.
Jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) juga mencatat penurunan besar, dari 19.900 pada Semester II 2023 menjadi 12.362 pada September 2024. Penurunan angka stunting pada anak pun terlihat, dari 1.801 pada Juni 2024 menjadi 1.748 pada September 2024.
Kecamatan Muara Bengkal tercatat memiliki jumlah anak stunting tertinggi (224 anak), sedangkan Batu Ampar mencatat angka terendah (5 anak).
Dalam sambutan penutupnya, Agus Hari Kesuma mengajak semua pihak untuk terus berkomitmen dalam mengatasi stunting secara konsisten.
“Kolaborasi lintas sektor dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme adalah kunci keberhasilan kita untuk menciptakan generasi emas Indonesia 2045,” tuturnya.
Dengan strategi terpadu, program inovatif, dan koordinasi yang solid, Pemkab Kutim optimistis dapat terus menurunkan angka stunting, menciptakan masyarakat yang lebih sehat, dan meningkatkan kesejahteraan generasi mendatang.(Adv)


