Tulis & Tekan Enter
images

Wakil Kepala Kesiswaan SMKN 4 Samarinda, Rahmat Supandi (Hyi/Kaltimkita.com)

Viral Siswa SMKN 4 Samarinda Meninggal Disebut karena Sepatu Sempit, Sekolah Buka Suara soal Kondisi Sebenarnya

Kaltimkita.com, SAMARINDA – Meninggalnya seorang siswa kelas XI SMK Negeri 4 Samarinda bernama Mandala Rizky Syahputra menjadi sorotan publik setelah muncul kabar viral di media sosial yang menyebut korban meninggal dunia akibat sepatu yang sudah kekecilan. Informasi tersebut ramai diperbincangkan warganet dan memunculkan beragam spekulasi.

Menanggapi kabar yang berkembang liar, pihak sekolah akhirnya memberikan klarifikasi terkait kondisi sebenarnya yang dialami Mandala sebelum meninggal dunia.

Klarifikasi itu disampaikan Wakil Kepala Kesiswaan SMKN 4 Samarinda, Rahmat Supandi. Ia menegaskan pihak sekolah turut berduka atas wafatnya Mandala dan berharap masyarakat tidak menyimpulkan persoalan secara sepihak.

“Segenap keluarga besar SMKN 4 Samarinda turut berduka cita atas berpulangnya Mandala Rizky Syahputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 yang kami cintai,” ujar Rahmat saat ditemui, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, sekolah merasa perlu menyampaikan kronologi secara terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Kami ingin berbagi cerita kronologis kejadian ini dengan hati yang terbuka. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mengenang dan memetik pelajaran bersama,” katanya.

Menurut Rahmat, Mandala sebenarnya sudah mendapat perhatian dari pihak sekolah sejak duduk di bangku kelas X. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat sekolah beberapa kali memberikan bantuan.

“Mandala sudah mendapat bantuan berupa seragam jurusan dan perlengkapan sekolah. Selain itu bantuan sembako juga sering diberikan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pihak sekolah bahkan disebut pernah membantu ketika keluarga Mandala mengalami kendala membayar kontrakan.

“Kalau ada kendala uang sewa kontrakan pun kami bantu semampunya,” lanjut Rahmat.

Rahmat menerangkan, pada Ramadan 2026 sekolah bekerja sama dengan mitra industri menggelar program praktik kerja pra-PKL bagi jurusan Pemasaran. Mandala disebut menjadi salah satu siswa yang paling antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Pembekalan program dilakukan pada 8 Februari 2026, sementara pelaksanaan berlangsung mulai 9 Februari hingga 20 Maret 2026.

“Mandala termasuk siswa yang aktif dan bersemangat mengikuti kegiatan,” katanya.

Pada 14 Maret 2026, sekolah juga menyalurkan zakat sebesar Rp 200 ribu kepada Mandala sebagai bagian dari program tahunan bantuan siswa membutuhkan.

“Zakat diambil perwakilan kakaknya,” ujar Rahmat.

Memasuki akhir Maret, Mandala masih tercatat hadir mengikuti pembelajaran di sekolah. Namun pada 1 April 2026, guru melihat kondisi fisiknya mulai menurun drastis.

“Hari itu Mandala datang ke sekolah dalam kondisi pucat. Guru PKn langsung menyarankan dia istirahat di rumah karena fisiknya sudah tidak memungkinkan,” jelas Rahmat.

Setelah itu, Mandala mulai sering izin sakit dan tidak mengikuti pembelajaran. Pada 9 April, keluarga kembali mengabarkan kondisi Mandala melalui pesan WhatsApp kepada wali kelas.

Keesokan harinya, ibu Mandala datang ke sekolah meminta bantuan dana sebesar Rp1,1 juta untuk pengobatan nonmedis di Tenggarong.

“Saat itu sekolah langsung membantu menggunakan dana kas masjid sekolah,” ungkap Rahmat.

Pihak sekolah juga menyarankan agar Mandala dibawa ke fasilitas kesehatan supaya mendapat pemeriksaan medis secara menyeluruh. Namun beberapa hari kemudian, keluarga kembali meminta bantuan dengan alasan serupa.

Pada 20 April 2026, Mandala sempat mengirim foto kondisi kakinya yang mulai membengkak kepada wali kelas sambil meminta bantuan dana pengobatan.

Merespons hal tersebut, wali kelas bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan dua teman sekelas langsung mendatangi rumah Mandala pada 21 April 2026.

“Kami ingin memastikan langsung kondisi Mandala,” ujar Rahmat.

Dari kunjungan itu, pihak sekolah mendapati kondisi Mandala sudah sangat lemah. Suaranya pelan, jalannya lambat, tangan gemetar, dan kondisi fisiknya tampak menurun.

Sekolah juga menemukan bahwa keluarga sebenarnya memiliki BPJS Kesehatan, namun kepesertaannya tidak aktif akibat tunggakan administrasi.

“Kami sempat membantu proses pengaktifan BPJS, tetapi terkendala administrasi kependudukan,” katanya.

Kabar soal sepatu kekecilan baru diketahui sekolah saat wali kelas kembali mengunjungi rumah Mandala pada 23 April 2026. Saat itu, wali kelas dan teman-teman sekolah membawa bantuan uang tunai sekitar Rp650 ribu, roti, dan susu.

Dalam kunjungan itu, ibu Mandala baru mengungkapkan bahwa sepatu anaknya sudah tidak muat dipakai.

“Ibunya menyampaikan bahwa Mandala pernah mengeluh soal sepatu, tetapi diminta jangan bercerita ke sekolah atau teman-temannya karena tidak ingin orang tahu kondisi kesulitan keluarga,” ujar Rahmat.

Mengetahui hal tersebut, wali kelas langsung berinisiatif menggalang bantuan untuk membelikan sepatu baru bagi Mandala. Bahkan sekolah bersama teman-temannya juga telah merencanakan membawa Mandala ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis sambil menunggu BPJS aktif kembali.

Namun sebelum seluruh rencana bantuan itu terealisasi, kabar duka datang pada Jumat dini hari, 24 April 2026, Pihak keluarga juga disebut menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki biaya untuk pemulasaran jenazah.

“Kakaknya menghubungi wali kelas dan wakil kepala sekolah melalui WhatsApp, mengabarkan bahwa Mandala telah meninggal dunia,” kata Rahmat. (hyi) 



Tinggalkan Komentar

//