Oleh: Prakoso Yudho Lelono
KOTA Balikpapan memasuki usia ke-129 tahun. Usia matang yang penuh cerita. Kota ini lahir dari sejarah industri energi. Ditetapkan berdasarkan pengeboran minyak pertama pada 10 Februari 1897. Inilah titik awal sejarah Balikpapan modern. Pengeboran minyak pertama menjadi penanda dimulainya babak baru wilayah ini. Dari situlah pertumbuhan bergerak. Kota ini menemukan identitasnya. Perlahan tapi pasti, Balikpapan tumbuh menjadi pusat jasa dan perdagangan penting di Kalimantan Timur. Dari kota minyak, menjadi kota penyangga masa depan kawasan.
Hari ulang tahun bukan sekadar seremoni. Juga bukan sekadar hingar bingar panggung hiburan semata. Ulang tahun kota adalah momen jeda. Waktu untuk menoleh ke belakang, sekaligus menatap ke depan.
Balikpapan hari ini adalah kota dengan luas wilayah sekitar 503 kilometer persegi. Menurut data Disdukcapil Kota Balikpapa tercatat jumlah penduduknya 762.595 ribu jiwa terhitung semester I tahun lalu. Tingkat kepadatan terus naik. Aktivitas ekonomi bergerak cepat. Sektor jasa, perdagangan, energi, logistik, dan konstruksi memberi kontribusi besar pada pertumbuhan daerah ini.
Data BPS beberapa tahun terakhir menunjukkan ekonomi Balikpapan konsisten tumbuh positif. Bahkan sempat mencatat pertumbuhan tinggi di atas rata-rata nasional untuk wilayah perkotaan di Kalimantan. Ini bukan angka kosong. Ini tanda bahwa mesin kota bekerja. Namun pertumbuhan saja tidak cukup. Kota tidak hanya dibangun oleh beton. Kota dibangun oleh manusia. Oleh nilai. Oleh partisipasi warganya.
Tema peringatan tahun ini menekankan harmoni dan arah global. Itu pilihan yang tepat. Balikpapan memang sedang bergerak menuju peran yang lebih besar. Letaknya strategis. Menjadi simpul penting konektivitas antar kota di Kalimantan Timur. Beririsan langsung dengan kawasan Ibu Kota Nusantara. Arus manusia dan investasi akan semakin kuat.
Tapi kota global bukan hanya soal gedung tinggi. Bukan cuma soal bandara dan jalan tol. Kota global adalah kota dengan tata kelola yang baik. Layanan publik yang rapi. Warga yang terlibat. Sistem yang dipercaya. Di sinilah demokrasi lokal menjadi fondasi penting.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu di tingkat kota, saya melihat satu kekuatan utama Balikpapan: partisipasi warga. Jumlah pemilih terdaftar di kota ini pada pilkada 2024 lalu berjumlah 521.986 daftar pemilih. Itu berarti ratusan ribu suara. Ratusan ribu harapan. Ratusan ribu kepentingan yang harus dijaga haknya.
Demokrasi tidak berhenti di bilik suara. Demokrasi hidup dalam keseharian. Dalam cara warga menyampaikan pendapat. Dalam keterlibatan komunitas. Dalam kontrol publik terhadap kebijakan. Dalam budaya dialog. Pemilu hanyalah salah satu pintu. Partisipasi adalah rumah besarnya.
Kota yang sehat butuh warga yang peduli. Peduli pada lingkungan. Peduli pada tata ruang. Peduli pada pelayanan publik. Peduli pada kejujuran proses. Tanpa itu, pertumbuhan hanya akan dinikmati segelintir orang.
Kita juga patut mengapresiasi pilihan peringatan HUT tahun ini yang dilakukan lebih sederhana. Tidak berlebihan. Lebih hemat. Lebih reflektif. Diselenggarakan di halaman balai kota. Ini pesan kuat bahwa empati sosial dan efisiensi anggaran juga bagian dari kedewasaan kota ini. Karena sejatinya perayaan tidak harus selalu ramai. Lebih penting dari itu bagaimana memaknainya.
Balikpapan sejak lama dikenal sebagai kota yang relatif tertib dan nyaman. Indeks kebersihan dan pengelolaan lingkungan sering mendapat apresiasi nasional. Ini modal sosial yang tidak semua kota punya. Budaya tertib tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari kebiasaan panjang dan keteladanan. Modal seperti ini harus dijaga. Menjadi indikator kebanggaan karakter masyarkatnya. Dan kota masa depan tidak hanya dinilai dari PDRB. Tapi dari kualitas hidup.
Tantangan kita ke depan tidak ringan. Urbanisasi meningkat. Tekanan lahan bertambah. Kebutuhan air bersih, energi, dan transportasi akan makin besar. Ketimpangan juga bisa muncul jika tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, arah pembangunan harus inklusif. Semua kelompok harus merasa ikut memiliki kota ini. Anak muda harus dapat ruang. Pelaku UMKM harus dapat dukungan. Komunitas kreatif harus diberi panggung. Perempuan dan kelompok rentan harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Demokrasi lokal memberi jalannya. Regulasi memberi kerangkanya. Partisipasi warga memberi jiwanya.
Tokoh bangsa, Mohammad Hatta, pernah mengingatkan: “Demokrasi hanya bisa tumbuh kalau ada tanggung jawab.” Tanggung jawab itu bukan hanya milik pemerintah. Bukan hanya milik penyelenggara pemilu. Tapi milik kita semua sebagai warga kota.
Tanggung jawab untuk tidak apatis. Tanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi palsu. Tanggung jawab untuk berbeda pendapat dengan beradab. Tanggung jawab untuk menjaga persatuan. Kita pasti mafhum bahwa Balikpapan dibangun oleh keberagaman. Banyak suku. Banyak latar belakang. Banyak cerita. Harmoni bukan slogan kosong di kota ini. Harmoni adalah kebutuhan nyata. Tanpa harmoni, kota akan bising. Dengan harmoni, kota akan produktif.
Usia 129 tahun adalah fase konsolidasi. Kita bukan kota baru. Sistem sudah terbentuk. Institusi sudah berjalan. Sekarang saatnya penguatan kualitas. Penguatan integritas. Penguatan kepercayaan publik.
Kepercayaan adalah mata uang termahal dalam tata kelola kota. Sekali hilang, sulit kembali. Karena itu transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan harus menjadi budaya, bukan sekadar program.
Saya percaya Balikpapan punya semua syarat untuk melompat lebih jauh. Sumber daya manusia ada. Infrastruktur dasar cukup kuat. Posisi strategis sangat mendukung. Tinggal memastikan arah kebijakan tetap berpihak pada kepentingan publik jangka panjang.
Di usia ke-129 ini, harapan saya sederhana. Semoga Balikpapan tetap menjadi kota yang nyaman ditinggali. Kota yang ramah investasi tapi juga ramah warga. Kota yang maju teknologinya, tapi tidak kehilangan nurani sosialnya. Kota yang sistem demokrasinya matang, dan partisipasi warganya terus tumbuh.
Selamat ulang tahun ke-129, Kota Balikpapan. Terus bertumbuh dalam harmoni.
Terus melaju dengan partisipasi. Menuju masa depan yang lebih kuat dan bermartabat. (*)


.jpg)