Tulis & Tekan Enter
images

Jeritan di Hulu Mahakam dan Asa di Pucuk Aspal

Catatan: Rusdiansyah Aras

PERNAHKAH Anda membayangkan sekarung beras seberat 25 kilogram menyentuh angka Rp1 juta? Bagi warga di perkotaan Kalimantan Timur, angka itu mungkin terdengar seperti gurauan belaka. Di Samarinda atau Balikpapan, harga Rp360 ribu hingga Rp400 ribu sudah membuat ibu rumah tangga mengeluh. Namun, di ceruk pedalaman Mahakam Ulu (Mahulu), harga fantastis itu adalah realitas pahit yang harus ditelan sehari-hari.

Begitu juga dengan gas Elpiji 12 kg. Jika di daerah lain harganya masih di kisaran normal, di Mahulu, warga harus merogoh kocek hingga Rp800 ribu. Ini bukan sekadar inflasi; ini adalah potret "biaya mahal" sebuah isolasi geografis.

Jalur Distribusi: Antara Sungai yang Ganas dan Darat yang Terjal

Masalahnya klasik namun pelik: Logistik. Mahulu selama ini seperti terkunci dalam labirin alam. Jalur sungai yang menjadi urat nadi utama seringkali menjadi penghambat. Saat musim kemarau, air surut hingga kapal tak bisa melaju. Sebaliknya, saat hujan turun, arus deras menjadi jeram yang mengancam nyawa.

Jalur darat? Masih jauh dari kata bersahabat. Lubang dan lumpur adalah kawan setia bagi para sopir pengangkut sembako yang bertaruh nasib menembus rimba.

Kabar baiknya, duet pemimpin Kalimantan Timur, Gubernur Rudy Mas'ud dan Wagub Seno Aji, tidak tinggal diam. Mereka kini tengah "bertempur" di tingkat pusat. Targetnya ambisius namun terukur: memastikan akses jalan darat dari Kutai Barat menuju Mahakam Ulu bisa mulus pada tahun 2027. Komitmen ini adalah kunci utama untuk memutus rantai distribusi yang mencekik leher rakyat di perbatasan.

Solusi Strategis Bupati Angela Idang Belawan

Lantas, bagaimana pemerintah daerah setempat merespons situasi darurat ini? Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, bersama jajaran pemerintah kabupaten, telah merancang beberapa solusi taktis:

Subsidi Ongkos Angkut (SOA): Pemerintah Kabupaten terus mengalokasikan anggaran untuk menyubsidi biaya transportasi barang pokok. Ini dilakukan agar harga di tingkat pengecer tidak murni mengikuti mekanisme pasar yang beringas akibat mahalnya biaya angkut.

Ketahanan Pangan Lokal (Lahan Kering): Sadar bahwa ketergantungan pada pasokan luar adalah kelemahan, Mahulu gencar menggalakkan program tanam padi lahan kering. Tujuannya agar warga bisa mandiri pangan, sehingga fluktuasi harga beras di luar daerah tidak langsung memukul kedaulatan dapur warga.

Pembangunan Gudang Penyangga: Memperbanyak kapasitas gudang stok di titik-titik strategis. Jadi, saat sungai pasang dan akses mudah, stok ditimbun sebanyak-banyaknya untuk cadangan saat musim kemarau tiba.

Kolaborasi Lintas Batas: Bupati terus menjalin komunikasi intens dengan Pemprov dan Pemerintah Pusat agar pembangunan infrastruktur tidak hanya menjadi wacana, tapi aksi nyata yang menyentuh perbatasan.

Menunggu tahun 2027 memang butuh kesabaran ekstra. Namun, sinergi antara Pemprov Kaltim yang mengejar akses infrastruktur dan Pemkab Mahulu yang menjaga stabilitas di akar rumput adalah harapan baru. Kita tidak ingin lagi mendengar ada warga di beranda depan negara ini yang harus membayar harga "emas" hanya untuk sepiring nasi.

Sebab, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika harga beras di tepi Mahakam sama rasanya dengan harga beras di tepian Ibu Kota.(rd)


TAG Kaltim

Tinggalkan Komentar

//