Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Insiden pelemparan botol berisi cairan mudah terbakar ke sebuah toko buah di Jalan Mulawarman, Kelurahan Manggar Baru, Kecamatan Balikpapan Timur, pada Kamis malam (19/3/2026), bermula dari persoalan lahan parkir.
Seorang saksi mata yang turut berupaya melerai kejadian tersebut mengisahkan secara langsung bagaimana peristiwa itu berlangsung hingga berujung pada aksi pelemparan.
Saksi bernama Sahran Ji (28) menuturkan bahwa awal mula persoalan terjadi ketika terduga pelaku berinisial AS (27), mendatangi kawasan Tanjung Kelor dan meminta izin untuk menjaga parkir di lahan depan sebuah toko.
Permintaan itu memicu perselisihan dengan seorang pemuda yang juga merupakan rekan dari Sahran. Sahran memastikan, AS bukan cekcok dengan pihak toko buah.
Justru kata Sahran, pihak toko buah tidak mengetahui awal mula niat AS yang hendak menawarkan diri sebagai juru parkir. "Mereka ribut masalah parkiran di depan wilayah Tanjung Kelor," ungkap Sahran membuka cerita, Sabtu (21/3/2026).
Sahran yang datang ke lokasi untuk menengahi sempat berhasil meredakan situasi. Ia mengaku meminta kedua pihak untuk berdamai. "Saya bilang, 'Sudah, kita sama-sama saja di sini.' Mereka sempat sepakat damai," katanya.
Namun perdamaian itu tidak bertahan lama. Beberapa menit setelah situasi mereda, AS kembali datang dengan membawa senjata tajam dan sebuah botol kaca yang kemudian diduga berisi cairan mudah terbakar.
AS mengayun-ayunkan senjata tajam itu seolah-olah menakut-nakuti orang-orang di sekitar lokasi.
Sahran menyaksikan sendiri momen ketika AS memegang benda-benda tersebut. Sahran kembali mencoba menghentikan niat AS agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. "Saya maju dan bilang, 'Sudah, pulang saja,'" tutur Sahran.
Dirinya bahkan telah menganjurkan AS untuk menjadi juru parkir di sebuah tempat yang lebih ramai pengunjung.
Hanya saja upaya Sahran tidak membuahkan hasil. AS sempat bolak-balik menggunakan sepeda motornya sebelum akhirnya memarkirkan kendaraan itu agak jauh dari toko buah.
Ia kemudian berjalan mendekati toko buah, membakar botol kaca yang serupa kemasan minuman berenergi tersebut, dan melemparkannya ke arah depan toko.
"Botol itu dibakar lalu dilempar dan meledak di depan saya. Saya sempat mundur," kata Sahran.
Sahran menegaskan bahwa ia tidak dapat memastikan jenis cairan yang ada di dalam botol tersebut. "Langsung terbakar dan meledak, jadi tidak tahu itu isinya apa karena tidak ada baunya. Yang jelas membahayakan orang," ujarnya.
Rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi turut merekam kejadian tersebut. Sahran menyebut nyala api yang terlihat dalam rekaman itu cukup besar. Setelah melancarkan aksinya, AS melarikan diri dari lokasi, namun tidak lama kemudian telah diamankan Polsek Balikpapan Timur.
Dalam insiden tersebut, terdapat korban yang mengalami luka bakar di bagian kaki. Namun, luka yang dialami tidak cukup parah hingga korban tidak membuat laporan resmi ke polisi.
Sahran mengonfirmasi bahwa rekannya yang terlibat cekcok dengan AS sebelumnya telah menyampaikan laporan melalui sambungan telepon kepada pihak kepolisian.
Perihal kondisi kejiwaan AS yang sempat disinggung pihak kepolisian, Sahran mengaku tidak dapat memastikan hal tersebut.
Ia mengakui bahwa AS dikenal mudah terpancing emosi dan kerap terlibat perselisihan dengan warga lain di lingkungan sekitar. "Kami tidak bisa memastikan dia ODGJ karena tidak ada bukti resmi," tegasnya.
Hanya saja, menurut dia, ketika seseorang sudah dipastikan orang dengan gangguan jiwa, maka seharusnya ditangani bukan oleh kepolisian, melainkan Dinas Sosial.
Terpisah, Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jerrold HY Kumontoy membenarkan kejadian itu. "(Terduga) pelaku sempat meminta izin menjadi juru parkir, namun ditolak. Diduga karena kecewa, (terduga) pelaku kembali dan melakukan tindakan tersebut," ungkapnya.
Polsek Balikpapan Timur bersama tim Resmob Polresta bergerak cepat. Kurang dari beberapa jam setelah kejadian, pria warga Muara Jawa, Kukar, tersebut diamankan berikut sejumlah barang bukti.
Yang kini menjadi fokus penyelidikan bukan sekadar motifnya, melainkan kondisi kejiwaan AS. Keterangannya selama pemeriksaan terus berubah-ubah dan tidak konsisten. "Kami menduga yang bersangkutan mengalami depresi. Saat ini kami berkoordinasi dengan dokter dari Polda untuk asesmen lebih lanjut," kata Kombes Jerrold.
AS yang bukan warga setempat, memang kerap berada di wilayah Manggar. Kehadirannya bahkan sudah dipersoalkan pihak RT setempat yang keberatan atas keberadaannya.
"Perlu kami tegaskan tidak ada aksi teror maupun ledakan. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan," tegas Kombes Jerrold. (zyn)


.jpg)