Catatan Rusdiansyah Aras
MEMBACA tulisan mantan bos saya di Kaltim Post, Pak Rizal Effendi, pagi ini di Jurnal Borneo, jujur membuat saya tertegun. Kabar tentang percepatan pergantian Direktur Utama Bankaltimtara, Muhammad Yamin, terasa begitu mendadak. Meski dalam dunia birokrasi dan korporasi plat merah pergantian adalah hal lumrah, namun membaca bahwa proses ini dilakukan saat masa jabatan masih tersisa dua tahun—tepatnya hingga 2028—tentu memantik tanda tanya besar.
Saya mengenal sosok Yamin bukan setahun dua tahun. Kami adalah kawan lama satu almamater di Universitas Mulawarman (Unmul). Jika Yamin menempa diri di Fakultas Ekonomi (Fekon), saya berada di seberangnya, di Fisipol.
Kedekatan kami bukan sekadar urusan profesional, tapi juga karena saya mengenal akar keluarganya. Ayahnya, Pak Kahar, adalah seorang dosen di Fakultas Ekonomi yang sangat saya hormati. Dari keluarga itulah Yamin mewarisi nilai-nilai kehidupan. Keluarga Pak Kahar adalah potret kesederhanaan yang nyata, dan sifat itu menular habis ke dalam diri Yamin.
Sejak ia meniti karier dari bawah di Bankaltimtara hingga akhirnya duduk di kursi puncak sebagai Direktur Utama, tak ada yang berubah dari pria berdarah Bugis-Makassar ini. Ia tetap sosok yang ramah, santun, dan yang paling menonjol: tetap sederhana. Kekuasaan dan jabatan mentereng tak membuatnya silau atau berubah perangai.
Namun, dinamika berkata lain. Kabar dari RUPS terakhir memberikan sinyal kuat bahwa Gubernur Rudy Mas’ud selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) menginginkan adanya penyegaran kepemimpinan pasca-Lebaran nanti. Kabar ini seolah menjadi "kado pahit" di tengah prestasi Bankaltimtara yang sebenarnya sedang harum, terbukti dengan raihan trofi TOP CEO BUMD 2025 baru-baru ini.
Sebagai orang yang lama bergelut di dunia media dan kini di organisasi olahraga, saya paham bahwa rotasi adalah hak prerogatif pemegang saham. Namun, sosok seperti Yamin—yang merupakan "orang dalam" asli dan merangkak dari bawah—tentu memiliki nilai historis dan emosional tersendiri bagi bank milik daerah ini.
Jika benar "patahnya" kepemimpinan Yamin ini terjadi dalam waktu dekat, kita hanya bisa berharap siapa pun penggantinya kelak mampu menjaga marwah Bankaltimtara sebagai pilar ekonomi Kaltim-Kaltara.
Bagi saya, Yamin telah menuntaskan tugasnya dengan integritas yang terjaga. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin besar, seseorang tidak perlu kehilangan sifat rendah hati. Selamat menjalankan sisa masa tugas, Mat (sapaan akrab kami). Sejarah dan catatan prestasi tidak akan pernah bisa dihapus oleh secarik surat keputusan.(rd)


