Kaltimkita.com, SAMARINDA – Di tepian Sungai Mahakam, tepatnya di Kecamatan Samarinda Seberang, denyut kehidupan para penenun tradisional masih bertahan di Kampung Tenun Samarinda. Kawasan ini bukan sekadar permukiman, tetapi juga menjadi pusat kerajinan sarung tenun khas Kalimantan Timur yang sarat nilai budaya dan sejarah.
Sejak ditetapkan sebagai Kampung Wisata Tenun oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 2012, kampung ini memegang peran penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus menopang ekonomi warga.
Aktivitas menenun yang dilakukan secara turun-temurun kini didominasi industri rumahan, dengan para ibu rumah tangga sebagai penggerak utamanya menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Salah satu penenun, Sumarni (65), menceritakan perjalanan panjangnya menekuni kerajinan sarung tenun. Ia mengaku mulai menenun sejak tahun 1990, berawal dari latar belakangnya sebagai perantau asal Sulawesi.
“Memang dari dulu di kampung asal sudah biasa menenun. Pas pindah ke sini, lihat orang-orang juga menenun, jadi saya lanjutkan. Masa saya diam saja,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (3/5/2026).
Kini, usaha yang ia jalankan melibatkan tujuh orang perajin. Di lingkungan gang tempat tinggalnya, hampir setiap rumah memiliki aktivitas serupa, menjadikan kawasan ini hidup dengan suara ritmis alat tenun.
Namun, di balik eksistensi budaya yang kuat, para perajin menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal pemasaran.
Sumarni mengungkapkan penjualan sarung tenun mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau dulu bisa sampai seratusan sarung terjual dalam sebulan, sekarang bulan puasa saja tidak sampai 20 lembar,” katanya.
Ia menambahkan, penurunan ini terasa jauh dibandingkan masa pascapandemi COVID-19, ketika permintaan sempat meningkat tajam.
Harga sarung tenun Samarinda sendiri bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung bahan dan motif. Sarung dengan kualitas premium bahkan bisa mencapai Rp1,6 juta untuk satu set.
Menurut Sumarni, perbedaan harga dipengaruhi oleh jenis benang dan tingkat kerumitan motif.
“Benangnya banyak yang impor dari Jepang, jadi ikut pengaruh nilai dolar juga. Kalau motif perempuan biasanya lebih mahal karena lebih rumit dan ada selendangnya,” jelasnya.
Dalam proses produksi, sarung untuk laki-laki dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga hari, sementara sarung perempuan membutuhkan waktu hingga lima hari karena detail motif yang lebih kompleks.
Meski telah mencoba pemasaran secara daring melalui media sosial seperti Facebook dan aplikasi pesan, Sumarni mengaku belum merasakan dampak signifikan.
“Kalau saya pribadi belum terlalu terasa. Soalnya orang biasanya mau lihat langsung motifnya, takut tidak sesuai kalau beli online,” katanya.
Ia juga menyebut penjualan biasanya meningkat saat ada pameran atau event tertentu. Namun belakangan, kegiatan tersebut mulai berkurang, berdampak pada menurunnya daya beli.
Di sisi lain, keberadaan produk pabrikan dengan harga jauh lebih murah turut menjadi tantangan tersendiri. Sarung bermotif serupa bisa ditemukan di pasaran dengan harga di bawah Rp100 ribu, membuat produk tenun tradisional harus bersaing dari segi harga maupun kualitas.
Meski demikian, para perajin di Kampung Tenun Samarinda tetap bertahan. Bagi mereka, menenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang harus dijaga.
“Yang penting kita tetap jalan. Ini sudah jadi bagian hidup,” pungkas Sumarni. (hyi)


