Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Perubahan pola angin regional diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca di Kalimantan Timur dalam beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya sistem tekanan rendah berupa bibit siklon tropis berkode 94W di perairan Samudra Pasifik sekitar Filipina yang berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Kalimantan.
BMKG memastikan sistem tersebut tidak bergerak menuju Kalimantan Timur. Namun, tarikan sirkulasi udara dari pusat tekanan rendah memicu perlambatan dan belokan angin di sekitar Kalimantan, kondisi yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, melalui Kepala Bidang Data Carolina Meylita, menjelaskan bahwa pengaruh cuaca yang dirasakan di Kalimantan Timur bersifat tidak langsung.
"Bibit siklon berada di wilayah Filipina. Kalimantan Timur tidak terdampak langsung, tetapi tarikan sistem tersebut memengaruhi pola angin regional dan mendukung pembentukan awan hujan," ujar Carolina.
Dalam satu hingga dua hari ke depan, bibit siklon 94W berpeluang berkembang menjadi siklon tropis.
Proses tersebut menyebabkan perlambatan kecepatan angin dan terbentuknya daerah belokan angin di sekitar Kalimantan, sehingga uap air cenderung terkonsentrasi.
"Ketika angin melambat, uap air akan berkumpul dan memicu pertumbuhan awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, dan Paser, serta kawasan perkotaan seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Carolina menambahkan, bibit siklon tropis umumnya memiliki masa hidup antara tiga hingga lima hari.
Selama berada di atas perairan terbuka Samudra Pasifik, sistem tersebut memperoleh suplai uap air yang besar sehingga berpotensi berkembang lebih cepat.
"Jika melintasi daratan Filipina, biasanya kekuatannya mulai melemah. Namun, dampak tidak langsungnya masih dapat dirasakan hingga wilayah Indonesia," ujarnya.
Tarikan massa udara menuju pusat tekanan rendah juga memicu gerakan udara naik di sekitar Kalimantan.
Kondisi ini berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di Kalimantan Timur, yang saat ini masih berada dalam periode puncak musim hujan pada Februari.
BMKG memprakirakan wilayah Kalimantan Timur mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau pada April hingga Mei mendatang.
Perubahan pola angin turut memengaruhi kondisi perairan. BMKG mencatat potensi peningkatan tinggi gelombang laut, terutama di perairan terbuka.
Di perairan Kalimantan Timur, tinggi gelombang diperkirakan mencapai sekitar 1,25 meter, sementara di perairan lepas dapat meningkat hingga dua meter.
BMKG juga memastikan hingga saat ini belum terdeteksi potensi banjir rob di wilayah pesisir Kalimantan Timur.
Namun, hujan lebat yang berlangsung dalam durasi lama tetap berpotensi menimbulkan genangan dan mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya di kawasan rawan banjir dan pesisir.
Kecepatan angin maksimum bibit siklon 94W saat ini terpantau mencapai sekitar 30 knot.
Ketika kembali berada di perairan terbuka, kecepatan angin berpotensi meningkat hingga 50–60 knot, meskipun dampaknya terhadap Kalimantan Timur tetap bersifat tidak langsung.
Sementara itu, di wilayah daratan Kalimantan Timur, kecepatan angin terpantau berada pada kisaran 13–15 knot atau sekitar 26–30 kilometer per jam.
Kondisi tersebut masih tergolong moderat, namun BMKG mengingatkan bahwa perubahan cuaca dapat terjadi secara cepat.
Meski potensi angin puting beliung di wilayah daratan Kalimantan Timur saat ini masih rendah, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat hujan lebat terjadi bersamaan dengan hembusan angin kencang. (zyn)


.jpg)