Tulis & Tekan Enter
images

Potensi Maritim Kaltim dan IKN Sepakunegara

Oleh : Dr Isradi Zainal

Rektor Uniba-Ketua PII Kaltim-Sekjen Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI).

Kaltim dan 'Sepakunegara' merupakan salah satu wilayah di tanah air yang memiliki potensi maritim yang sangat besar. Wilayah ini memiliki banyak pelabuhan, galangan dan pemilik kapal. Di wilayah ini juga terdapat perusahaan nasional dan multinasional yang butuh kapal yang banyak, baik yang sederhana maupun yang canggih.

Propinsi Kalimantan timur memiliki 22 unit Pelabuhan baik laut dan sungai yang tersebar di 14 kabupaten/kota dengan rincian 15 unit pelabuhan laut 7 unit pelabuhan angkutan sungai danau dan pelabuhan
penyeberangan.

Sejumlah diantaranya masuk dalam rencana induk pelabuhan nasional: pelabuhan Tanjung Redeb, pelabuhan Matarip, pelabuhan Sangkulirang, pelabuhan Maloy, pelabuhan Sangatta, pelabuham Tanjung Laut, pelabuham Lhok guan, pelabuhan Tanjung santan, Pelabuhan Samarinda, Pelabuhan Kuala Samboja, pelabuhan Balikpapan, pelabuhan penyeberangan Kariangau, pelabuhan penyeberangan Lenajam, pelabuhan Penajam paser, Pelabuhan tanah paser.

Galangan di Kaltim hampir ada di setiap kota dan kabupaten, bahkan di sejumlah sungai di Kalimantan terdapat galangan yang memproduksi kapal setiap saat. Besarnya jumlah kapal dan galangan di kalimantan timur mendorong Biro Klasifikasi Indonesia dan Biro klasifikasi asing membuka cabang utama di Balikpapan/Samarinda. Biro Kalsifikasi adalah perusahaan yang bertugas melakukan sertifikasi kelayakan kapal, material dan perlengkapannnya

Banyaknya jumlah pelabuhan, galangan dan kapal serta pemilik kapal di kaltim tidak lepas dari banyaknya jumlah perusahaan yang bergerak di bidang migas, pertambangan, batu bara, kayu, industri perkapalan, dan jasa lainnya, seperti Total (PHM), Chevron (PKHT), PT. Badak, PKT, dll.

Berdasarkan pengalaman penulis yang sempat menjadi konsultan maritim dan surveyor kapal di kaltim, kapal yang di survey di wilayah ini sangat banyak dan terdapat puluhan kapal yang harus di survey setiap harinya. Bahkan tempat ini juga memproduksi kapal canggih yang di beli perusahaan di Singapura.

Ibu kota negara (IKN) baru yang berada di 'Sepakunegara' (sebagian penajam paser utara dan kutai kertanegara) atau di Pakunegara (Penajam paser utara-kutai kertanegara) Kaltim tentu saja memiliki potensi yang sama di sektor maritim, apalagi wilayah ini di lalui selat Makassar, selat lombok dan laut sulawesi yang merupakan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II.

ALKI II yang melewati selat makassar- selat lombok membelah sisi Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Lebih jauh pendangkalan yang terjadi belakangan ini di selat malaka menyebabkan kapal kapal besar khususnya kapal Tanker memindahkan trayek pelayarannya melalui selat Makassar-selat Lombok.

Sebagai jalur perdagangan dan jalur internasional, ALKI II mempunyai posisi strategis dan menjadi penting dalam posisinya sebagai jalur pendukung utama dari selat Malaka yang sudah amat padat.

Bersarnya potensi maritim dan kelautan Kaltim dan IKN Sepakunagara/Pakunegara yang dilalui ALKI II mendorong Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Forum Rektor yang tergabung dalam PII dan Rektor lainnya untuk memperhatikan sektor maritim di IKN baru.

Menurut Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI) visi IKN harus ditambahkan konsep Blue city untuk mendukung kebijakan tol laut Jokowi dan memantapkan posisi IKN Sepakunagara sebagai Poros maritim dunia, benua maritim dan pusat maritim nusantara, caranya adalah dengan membangun Pelabuhan internasional dan fasilitas lainnya yang berfungsi sebagai international hub. Pembangunan IKN di Sepakunegara/Pakunegara akan menarik investor di jalur ini.

Pemerintah harus menyediakan kawasan industri terintegrasi dengan pelabuhan hub di Kaltim guna menarik investasi dari Asia timur, Eropah, Amerika dan Australia. Pelabuhan hub di Kaltim/Sepakunegara sangat menarik karena wilayah ini secara teoritis bebas gempa. Sepakunegara bisa menjadi hub industri dan hub poros maritim dunia.

Peluang ini besar karena investasi di kaltim dan Sepakunegara/Pakunegara yang di lalui ALKI II merupakan poros maritim yang akan memangkas jarak ke tempat tujuan sehingga ongkos logistik lebih murah. Jika ini dilakukan maka devisa transhipment dan kegiatan industri akan sangat besar hingga ratusan trilliun rupiah serta menyerap jutaan tenaga kerja lokal, sekaligus menumbuhkan ekonimi di kawasan ini.

Sebagai pembanding Singapura dan Malaysia yang berada di ALKI I dengan panjang garis Pantai jauh lebih kecil dari Indonesia mampu meraup penghasilan sebesar 300an triliun. Padahal ALKI II memiliki kedalaman yang lebih besar dari ALKI I dan ALKI III. Untuk itu saatnya pemerintah dan konseptor IKN untuk tidak melupakan potensi maritim di Kaltim dan IKN Sepakunagara/Pakunegara. Konsep IKN sebaga Nagara Rimba Nusa mesti diperluas menjadi Nagara Rimba Nusa Antara yang smart, green, forest, sustainable dan blue city. (and)


TAG

Tinggalkan Komentar

//