Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Butuh waktu berhari-hari bagi Naomi Yusri (52) untuk bisa menguatkan diri usai kehilangan putranya, VP (18), pada Senin (26/1/2026).
Peristiwa pembunuhan yang merenggut nyawa remaja itu di toko kelontong di Jalan MT Haryono, Balikpapan, menyisakan duka yang tak segera bisa dirapikan dengan kata-kata.
Setelah hampir dua pekan berlalu, Naomi baru sempat bercerita tentang anak keduanya itu. Kepada media ini, ia mengingat malam sebelum kejadian sebagai malam yang biasa.
Ia dan VP sempat berbincang lewat panggilan video, bercanda ringan tentang ponsel adik korban yang rencananya akan diperbaiki. Tidak ada tanda-tanda, tidak pula firasat buruk.
Namun keesokannya, sekitar pukul 11.30 WITA, VP tewas setelah diserang dengan pisau dapur berulang kali oleh tetangga toko, seorang pria lanjut usia berinisial MN (61).
Kabar duka itu baru diterima melalui telepon dari sanak saudara, saat Naomi persis sedang beraktivitas memasak di kediamannya di Sepaku, PPU.
"Dia bilang, VP tidak bisa dihubungi. Saya tanya kenapa. Terus dijawab, 'Ditusuk di tempat kerjanya,'" kata Naomi mengulang percakapan dari ujung telepon.
Awalnya ia tak percaya, namun di saat yang sama Naomi merasa kabar itu bukan sesuatu yang bisa ia sangkal.
Pikirannya berkecamuk. Dalam bayangannya, VP bukan tipikal berandalan yang bisa terlibat pertengkaran, apalagi sampai berujung kekerasan.
Belum terjawab bagaimana anaknya bisa menjadi target penikaman, pikirannya terbebani satu hal lain: bagaimana secepat mungkin menjangkau Balikpapan.
Setibanya di Rumah Sakit Bhayangkara, Naomi tak lagi mampu menahan diri. Tangisnya pecah saat melihat jasad VP terbujur kaku dengan belasan luka tusukan dan iris di tubuhnya.
"Saya lihat anak saya, kasihan sekali," isak Naomi.
Berdasarkan keterangan kepolisian dan kesaksian yang dihimpun, tersangka MN merasa tersinggung dengan ucapan korban saat menanyakan harga rokok dan pengharum pakaian.
Alasan tersebut sulit diterima Naomi. Baginya, kepribadian VP selama ini dikenal tertutup dan sangat menjauh dari konflik verbal maupun fisik.
Sejak kecil, VP memang tidak banyak bicara di mata Naomi. Sifat itu mengeras setelah VP mengalami perundungan saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Pengalaman pahit tersebut meninggalkan trauma yang mendalam hingga membuatnya enggan melanjutkan jenjang pendidikan.
Selama bertahun-tahun, VP lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bergaul dengan lingkaran kecil teman yang dikenal baik oleh keluarga.
"Saya tahu betul anak saya seperti apa. Dia pendiam, tidak neko-neko," kata Naomi lirih.
Keputusan VP untuk bekerja di sebuah toko kelontong datang belakangan, setelah ada tawaran dari kerabat.
Awalnya, ia hanya membantu mengangkat barang. Namun perlahan, kejujuran dan kedisiplinannya membuat sang pemilik toko, Ambo, menaruh kepercayaan lebih.
VP kemudian dipercaya menjaga toko, bahkan ikut diboyong saat Ambo membuka cabang baru di Jalan MT Haryono, Balikpapan, sekitar tujuh bulan sebelum peristiwa itu terjadi.
Selama lebih dari tiga tahun bekerja, VP dikenal sebagai karyawan yang bertanggung jawab. Ambo mengaku tak pernah menemukan masalah selama bekerja bersama remaja tersebut.
Kepercayaan itu pula yang membuatnya menyerahkan pengelolaan keuangan toko kepada VP. "Saya percaya sama dia. Selama ini tidak pernah ada masalah," ujar Ambo.
Hingga kini, keluarga korban mengaku belum pernah didatangi pihak keluarga tersangka untuk menyampaikan permohonan maaf.
Bagi Naomi, cara MN menghabisi nyawa putranya meninggalkan luka yang sulit diterima akal sehat. "Binatang saja kalau dibunuh tidak seperti itu," katanya terisak.
Harapan keluarga kini bertumpu pada proses hukum. Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk pisau dapur yang digunakan tersangka.
Tersangka MN saat ini ditahan dan dijerat Pasal 458 subs 459 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman 20 tahun penjara atau penjara seumur hidup.
Bagi Naomi, hukuman seberat apa pun mustahil mengembalikan putranya. Namun ia ingin keadilan ditegakkan, agar kematian VP tidak berlalu begitu saja.
"Harapan saya, pelaku mendapatkan hukuman sesuai perbuatannya. Itu permintaan saya sebagai ibunya," tutup Naomi.
Sebelumnya, polisi telah menetapkan MN sebagai tersangka pembunuhan berencana terhadap VP di Balikpapan Utara.
Kasatreskrim Polresta Balikpapan AKP Zeska Julian menyebut motif peristiwa dipicu sakit hati tersangka atas ucapan korban saat menanggapi keluhan harga.
Beberapa hari sebelum kejadian, MN membeli rokok dan memprotes harga, lalu kembali datang untuk membeli pengharum pakaian dan kembali berdebat.
"Korban berkata, ‘biarin aja, mau mahal kah, mau murah kah’, saat ditegur harga terlalu mahal oleh tersangka," kata AKP Zeska, Jumat (30/1/2026).
Setelah adu mulut, MN berpura-pura mengambil uang, namun pulang mengambil pisau dapur sepanjang sekitar 20 sentimeter.
Ia kembali ke toko, memancing korban mendekat ke kasir, lalu menusuk perut korban dan mengejar hingga area belakang toko.
Hasil visum menyatakan korban meninggal akibat luka tusuk di perut kanan yang menembus rongga perut dan merobek pembuluh nadi utama. Total terdapat 13 luka, terdiri dari luka lecet, tusuk, dan iris. (zyn)


.jpg)