Kaltimkita.com, BALIKPAPAN – Asap tipis mengepul dari panci kukusan yang tersusun rapi di atas meja. Di dalamnya, puluhan dimsum kecil berwarna keemasan siap dihidangkan. Suara tawa dan obrolan ringan terdengar dari sudut aula Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Balikpapan, tempat sekelompok perempuan mengenakan celemek putih sibuk membentuk adonan.
Namun, pemandangan hangat itu bukan berasal dari dapur restoran atau sekolah memasak. Mereka adalah warga binaan pemasyarakatan, yang tengah belajar menata masa depan melalui pelatihan memasak dimsum, program kerja sama antara Rutan Balikpapan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan.
Pelatihan tersebut juga mendapat dukungan dari CV. Ariya Magga Jaya dan Forum UMKM Balikpapan Tengah sebagai penyelenggara teknis. Di bawah bimbingan Chef Dyah Retnani, para peserta belajar bukan hanya tentang resep, tetapi juga tentang kesabaran, tanggung jawab, dan harapan.

“Kami ingin perempuan, di manapun mereka berada termasuk di lingkungan pemasyarakatan tetap punya kesempatan untuk bangkit dan berdaya,” ujar Agus Salim, Kepala Rutan Balikpapan, dengan nada penuh keyakinan, Senin (13/10/2025).
Agus menuturkan, pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan berbasis kemandirian dan kreativitas yang terus dikembangkan pihaknya. Ia percaya bahwa pemasyarakatan tidak hanya berbicara tentang menjalani hukuman, melainkan juga tentang memberi kesempatan kedua.
“Rutan bukan hanya tempat menjalani masa pidana, tetapi juga wadah untuk belajar, tumbuh, dan menemukan kembali potensi diri,” tambahnya.
Bagi sebagian peserta, kesempatan ini menjadi titik balik dalam perjalanan mereka. “Awalnya saya tidak tahu apa-apa soal masak. Tapi setelah ikut pelatihan, saya ingin buka usaha kecil nanti kalau sudah bebas,” ungkap salah satu warga binaan dengan mata berbinar.
Di akhir sesi, mereka menikmati hasil karya sendiri. Dimsum hangat dibagikan, senyum mengembang di wajah-wajah yang biasanya kaku oleh rutinitas. Bukan sekadar makanan, tapi simbol kepercayaan diri baru yang tumbuh di balik tembok tinggi Rutan.
Melalui kegiatan semacam ini, Rutan Balikpapan berupaya menghadirkan wajah pemasyarakatan yang lebih humanis dan berorientasi pada pemberdayaan perempuan. Di antara uap dimsum dan tawa kecil yang menyelingi hari, ada satu pesan yang nyata bahwa di balik jeruji, harapan selalu bisa dimasak kembali, hangat, dan siap disajikan untuk masa depan yang lebih baik. (rep)


