Tulis & Tekan Enter
images

Pemilik Alwan Laundry, Eny (Hyi/Kaltimkita.com)

Usaha Disorot, Pemilik Alwan Laundry Jelaskan Skema Kerja Sama dengan Biro Umum Kaltim

Kaltimkita.com, SAMARINDA – Usaha mikro Alwan Laundry mendadak menjadi sorotan publik setelah namanya viral pada awal Mei 2026. Laundry yang berlokasi di Jalan Woltermongonsidi, Samarinda ini diketahui menjadi salah satu penyedia jasa pencucian perlengkapan rumah jabatan yang dikelola oleh Biro Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Pemilik Alwan Laundry, Eny, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah berlangsung sejak masa Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, sekitar tahun 2023.

“Saya bermitra sudah mulai zaman Penjabat gubernur, Pak Akmal Malik. Jadi ini bukan baru, sudah berjalan beberapa tahun,” ujar Eny saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (6/5/2026). 

Ia menegaskan, posisinya dalam kerja sama tersebut murni sebagai penyedia jasa, bukan satu-satunya vendor yang terlibat. Menurutnya, terdapat sejumlah penyedia jasa laundry lain yang juga melayani kebutuhan rumah jabatan.

“Saya ini hanya penyedia jasa. Dan bukan cuma saya, banyak juga laundry lain yang ikut. Jadi memang dibagi-bagi,” katanya.

Eny menjelaskan, jenis layanan yang ia tangani lebih spesifik pada perlengkapan rumah tangga seperti ambal (karpet khas), taplak meja, sarung kursi, hingga karpet berukuran besar. Sementara untuk pakaian dinas, ia memastikan tidak termasuk dalam layanan usahanya.

“Kalau baju dinas bukan ke saya. Saya lebih ke taplak meja, sarung kursi, karpet, sama ambal. Karena memang penanganannya beda,” jelasnya.

Menurut Eny, salah satu alasan ia kerap dipercaya menangani pesanan adalah karena kesiapannya melayani selama 24 jam, terutama untuk kebutuhan mendesak yang sering muncul menjelang atau setelah acara resmi di rumah jabatan.

“Di rumah jabatan itu kebanyakan sifatnya ekspres dan tidak bisa diprediksi. Misalnya malam ada acara, pagi sudah harus dipakai lagi. Jadi kami harus cepat,” ujarnya.

Ia mengaku kerap menerima permintaan mendadak dengan tenggat waktu sangat singkat, bahkan hingga dini hari.

“Pernah ditelepon harus selesai jam 3 pagi, karena paginya mau dipakai. Itu kan berarti kami kerja di luar jam normal,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Eny, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi biaya jasa laundry, terutama untuk layanan ekspres.

“Kalau kerja malam, karyawan juga ekstra, tidak tidur. Jadi memang harganya berbeda dengan yang reguler. Bukan semata-mata mahal, tapi karena pengerjaannya di luar jam kerja dan sering dadakan,” jelasnya.

Dalam perhitungan biaya, Eny menyebutkan bahwa pencucian karpet dan ambal dihitung berdasarkan luas per meter persegi, serta mempertimbangkan jenis dan bahan.

"Karpet itu hitungannya meter persegi. Ada yang Rp18 ribu, Rp25 ribu, sampai Rp30 ribu per meter, tergantung jenisnya. Kalau yang impor seperti Turki atau yang tebal, perlakuannya juga beda dan pengeringannya lebih lama,” paparnya.

Sementara untuk taplak meja dan perlengkapan lainnya, proses pengerjaan dilakukan sesuai permintaan, termasuk pelabelan dan pengemasan khusus.

“Taplak itu kadang harus dipisah satu-satu, dilabeli sesuai kebutuhan acara. Jadi kami kerjakan sesuai permintaan,” katanya.

Terkait mekanisme pembayaran, Eny menyebut sistem yang digunakan adalah berbasis invoice bulanan yang diajukan ke Biro Umum Pemprov Kaltim.

“Pembayarannya per bulan pakai invoice. Jadi kami kumpulkan dulu, nanti diajukan ke Biro Umum,” ujarnya.

Ia juga meluruskan informasi yang beredar di publik terkait nilai anggaran laundry yang disebut mencapai 450 juta rupiah. Menurutnya, angka tersebut merupakan akumulasi dari beberapa penyedia jasa, bukan hanya Alwan Laundry.

“Kalau disebut Rp450 juta itu bukan satu tempat. Itu gabungan dari beberapa laundry. Kalau di saya saja tidak sebesar itu,” tegasnya.

Dalam kondisi normal tanpa kegiatan besar, Eny memperkirakan nilai pekerjaan yang ia tangani berkisar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan. Namun, angka tersebut bisa meningkat menjadi Rp10 juta hingga Rp15 juta saat intensitas acara di rumah jabatan meningkat.

“Kalau ada acara memang naik, apalagi momen seperti Lebaran. Banyak yang dicuci, termasuk karpet-karpet di rumah jabatan,” katanya.

Sebagai pelaku usaha mikro yang memulai bisnis sejak 2016, Eny mengaku tidak menyangka usahanya kini menjadi perhatian publik. Ia menegaskan bahwa keterlibatannya sebagai Mitra tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor kesiapan layanan dan kebutuhan di lapangan.

“Saya ini usaha kecil, mulai dari nol. Bisa sampai di sini juga karena kebetulan dan kesiapan kami melayani 24 jam. Bukan karena hal lain,” ujarnya.

Eny berharap masyarakat dapat memahami konteks kerja sama tersebut secara utuh, termasuk sistem pembagian vendor dan sifat pekerjaan yang sering kali mendesak.

“Kalau ada permintaan ya kami kerjakan. Prinsipnya kami siap melayani, itu saja,”pungkasnya.(Hyi)


TAG Samarinda

Tinggalkan Komentar

//