Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Ketua Stand Up Indo Balikpapan Goppi Aziz. (Ist/Goppi Aziz)

Mens Rea Pandji Jadi Ujian Komedi Kritik, Stand Up Indo Balikpapan Tekankan Fakta dan Argumen

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Ramai pembahasan special stand-up comedy ke-10 Pandji berjudul "Mens Rea" yang tayang di Netflix akhir Desember 2025.

Materi bernuansa satir dan kritik sosial-politik yang menyinggung organisasi keagamaan dan isu kekuasaan itu dilaporkan pada 8 Januari 2026 dengan dugaan penghasutan dan penistaan agama.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Stand Up Indo Balikpapan Goppi Aziz menegaskan ruang berekspresi komika tetap terbuka meski polemik komedi kritik Pandji Pragiwaksono mengemuka.

Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. 

Goppi menilai besarnya pengaruh komika nasional seperti Pandji Pragiwaksono membuka jalan bagi berbagai terobosan di dunia stand up comedy Indonesia.

Bahkan, fenomena komedi kritik dari Pandji akan banyak menginspirasi komika lainnya untuk menyampaikan aspirasi lewat tawa.

"Kalau aku lihat, Pandji itu selalu jadi pembuka jalan. Mulai dari tour, digital download, sampai arah materi," ujar Goppi. 

Dia menambahkan tidak menutup kemungkinan nanti akan ada komika-komika lain yang juga berani menyuarakan kritik dengan cara mereka sendiri.

Meski begitu, Goppi menegaskan bahwa materi stand up comedy tidak wajib berisi kritik politik.

Baginya, komedi tetaplah komedi, dengan tujuan utama untuk menghibur penontonnya.

"Bisa jadi media kritik, tapi enggak wajib. Yang wajib itu lucu dulu," tegasnya.

Goppi menambahkan, komika yang membawakan kritik harus memahami substansinya, berbasis fakta, dan disampaikan dengan argumen yang kuat.

Di Kota Balikpapan sendiri, geliat stand up comedy terus berkembang dengan karakter materi yang beragam.

Materi yang dibawakan komika lokal mulai dari pengalaman pribadi, masalah dengan pasangan, tekanan pekerjaan hingga sosial dan politik.

Goppi menyatakan tidak ada larangan bagi komika Balikpapan yang ingin membawakan materi "tepi jurang".

Sama seperti kesenian pada umumnya, tidak ada batasan tema yang boleh diangkat.

"Kalau mau bahas politik, boleh. Saya sendiri juga pernah bawain materi seperti itu di beberapa panggung," ungkapnya.

Namun, panggung yang digunakan untuk materi sensitif biasanya bersifat eksklusif dan tertutup, sehingga tidak semua publik bisa mengaksesnya secara bebas.

Goppi menjelaskan materi "tepi jurang" tersebut mesti tetap dibarengi dengan data dan fakta yang tepat nan cerdas.

Sejauh ini, Goppi mengaku belum pernah ada teguran atau protes langsung terhadap materi kritis yang dibawakan komika Balikpapan.

Hal ini karena panggung memang disiapkan khusus untuk audiens tertentu.

Jika materi diunggah ke media sosial, biasanya sudah dikurasi atau disensor untuk meminimalisir risiko, terutama bagi komikanya sendiri.

Goppi mengamati bahwa baik penonton anak muda maupun orang tua sama-sama cukup responsif terhadap materi-materi kritis.

Reaksi dari penonton cenderung positif dan tidak menimbulkan amarah.

"Biasanya ketawa-ketawa sambil bilang, 'iya ya, iya ya'. Jadi bukan marah, tapi lebih ke refleksi sambil ketawa," paparnya.

Meski demikian, fenomena ini tidak menyurutkan semangat para komika untuk terus berkarya.

Goppi optimistis stand up comedy Indonesia akan terus berkembang dengan beragam pendekatan dan gaya selama dijalankan secara bertanggung jawab dan berbasis fakta. (zyn) 



Tinggalkan Komentar

//