Oleh : Andi Ahmad Sanusi
-President Director Inkorincorp Ocean Global -Komisaris PT INkorincorp Filcocean Investama
Beberapa hari lalu saya mendapat DM dari seorang kenalan. Pertanyaannya sederhana, bahkan terdengar ringan: “Bang, ini lagi promo kopi? Abang jualan ya? Kenapa perusahaan Abang Velocity jualan kopi?”
Saya tersenyum membacanya. Pertanyaan itu wajar. Di negeri ini, apa pun yang rapi, konsisten dan kelihatan niat sering langsung dibaca sebagai “jualan”. Padahal tidak semua yang ditunjukkan dengan tenang sedang berusaha menjual sesuatu. Ada kalanya orang hanya sedang bercerita atau sedang memilih.
Pertanyaan itu justru mengingatkan saya pada satu gagasan besar yang belakangan sering muncul dalam diskusi tentang masa depan negara. Dalam berbagai forum dan tulisan global, nama Prof. Jiang kerap disebut ketika membahas apa yang ia sebut sebagai siklus reset negara. Menurut Prof. Jiang, negara tidak runtuh sekali lalu mati. Ia mengalami fase-fase penyesuaian ulang (reset) ketika cara lama tidak lagi sanggup menjawab kenyataan baru.
Reset, dalam kerangka ini, bukan selalu revolusi atau pergantian rezim. Lebih sering, ia adalah momen ketika cara berpikir, cara mengelola kekuasaan dan cara membangun ekonomi perlu diperbarui. Reset bisa datang secara dewasa~pelan, lewat reformasi dan peningkatan kualitas atau datang secara keras melalui krisis ekonomi, konflik sosial dan keguncangan kepercayaan. Yang paling berbahaya, kata Prof. Jiang, justru ketika reset ditunda terlalu lama. Negara yang menolak berubah sering kali akhirnya dipaksa berubah oleh keadaan.
Gagasan ini menemukan gaungnya dalam pandangan Prof. Rhenald Kasali. Ia menegaskan bahwa kepercayaan diri sebuah bangsa tidak lahir dari slogan tetapi dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari. Ketika masyarakat mulai menghargai kualitas, proses, dan nilai, ekosistem ekonomi akan tumbuh secara alami. Perubahan itu tidak instan. Ia dibangun dari konsistensi, keberanian bersaing secara sehat dan kemauan untuk berdiri di atas kaki sendiri ~ bukan dengan menolak yang asing, melainkan dengan mematangkan apa yang kita miliki.
Di titik inilah pertanyaan soal “jualan kopi” tadi menemukan konteksnya. Apa hubungannya semua ini dengan Velocity yang menjual kopi?
Di permukaan, mungkin tidak ada. Tapi di level yang lebih dalam, justru di sanalah reset dewasa bekerja. Ketika sebuah usaha memilih tidak asal-asalan - tidak memotong proses, tidak menurunkan kualitas demi cepat laku ~ itu adalah latihan kecil dari kontrak sosial baru. Ketika konsumen memilih kopi bukan semata karena harga atau tren, tetapi karena rasa, proses dan nilai di baliknya, itu adalah bentuk pilihan harian yang membentuk ekosistem.
Velocity tidak sedang menyelamatkan negara. Ia hanya memilih untuk tidak ikut merusak selera. Ia memilih berjalan pelan, rapi dan konsisten. Dan bila cukup banyak orang melakukan hal serupa ~ di kopi, di media, di organisasi olahraga, di pendidikan, di bisnis kecil - reset negara tidak perlu datang lewat krisis besar.
Negara tidak “di-reset” lewat pidato. Ia di-reset ketika cukup banyak warga berhenti menormalisasi yang asal-asalan. (*)


