Tulis & Tekan Enter
images

FOTO: Koordinator Keamanan Gereja Santa Theresia, Johanes Mulyo (56), saat menceritakan pengalaman hidupnya.

Temukan Makna Hidup di Usia Senja, Cerita Warga Balikpapan Johanes Mulyo 15 Tahun Melayani Gereja

Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Dedikasi panjang terhadap pelayanan gereja menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang warga Prapatan Balikpapan, Johanes Mulyo (56). 

Pria yang turut dipercaya sebagai Koordinator Keamanan Gereja Katolik Santa Theresia Balikpapan ini punya pengalaman mengabdikan diri sebagai prodiakon yang bertugas dalam setiap perayaan ibadah.

Johanes menjelaskan bahwa perannya membuatnya hampir tidak pernah duduk bersama jemaat selama ibadah berlangsung. 

Aktivitas tersebut dijalaninya sebagai bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan gereja kepadanya.

Ia mengaku, kesadarannya untuk melayani tidak tumbuh begitu saja, melainkan seiring bertambahnya usia. 

"Dari pengalaman saya sendiri, saya tergerak untuk melayani. Hidup ini saya niatkan agar bisa menjadi berkat bagi orang lain," kata Johanes.

Selama 15 tahun berturut-turut, Johanes mengaku selalu dipercaya dalam berbagai kepanitiaan gereja. 

Disamping ibadah Natal, ia juga aktif saat Paskah dan kegiatan lainnya. Bahkan, hampir setiap hari waktunya lebih banyak dihabiskan di lingkungan gereja. 

Bahkan Ia mengaku tidak memiliki kebiasaan menghabiskan waktu di luar untuk sekadar berkumpul.

"Setiap hari pun bisa dibilang saya lebih sering menghabiskan waktu di gereja. Saya tidak mau nongkrong di tempat lain," kekeh Mulyo. 

Perjalanan hidup Johanes menuju pelayanan gereja tidak terjadi begitu saja. 

Pria asal Malang Jawa Timur tersebut mengaku pernah menjadi jemaat Bethany Malang sebelum akhirnya merantau.

Kepindahannya ke Kalimantan Timur berawal dari hubungan dengan seorang perempuan asal Samarinda yang kini menjadi istrinya. 

Perbedaan latar belakang iman membuatnya mulai mempelajari ajaran Katolik yang dipercaya oleh pendamping hidupnya kini. 

"Ternyata di Katolik, khususnya dalam hal perkawinan, aturannya lebih ketat. Buktinya, tidak boleh bercerai. Nah, itu yang membuat saya tertarik," ungkapnya.

Ketertarikan tersebut menjadi titik awal keterlibatannya dalam Gereja Katolik. 

Johanes bercerita, ia masuk ke Balikpapan pada 1990 sebelum akhirnya meresmikan rumah tangganya tujuh tahun kemudian di Katedral Samarinda.

Namun saat itu, ia masih bekerja di luar negeri dan hanya pulang ke Balikpapan ketika masa libur kerja, sehingga tidak bisa berkontribusi lebih di gereja. 

Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya pada tahun 2000, ia mendirikan perusahaan kontraktor pada 2002.

Pekerjaan tersebut membuatnya sering berpindah lokasi, mulai dari Sangatta hingga Tarakan, sehingga belum memungkinkan untuk aktif di gereja.

Seiring berjalannya waktu, Johanes merasa dia terlalu jauh dari Tuhan. Akhirnya, berkat kesadaran diri, ia berniat membalas masa lalu dengan memutuskan untuk sepenuhnya terlibat dalam pelayanan, tepatnya di Gereja Santa Theresia Balikpapan. 

"Saya tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun hampir 50 persen waktu, saya dedikasikan untuk gereja," tutup pria yang karib disapa Pak Mul tersebut. (zyn) 



Tinggalkan Komentar

//