Kaltimkita.com, BALIKPAPAN - Kenaikan harga sejumlah jenis bahan bakar, seperti Dexlite kini benar-benar memangkas ruang gerak petani di Balikpapan.
Sebut saja di Balikpapan Timur. Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Dexlite dari semula Rp14.200 yang menyentuh angka Rp23.600 per liter membuat biaya operasional petani melonjak.
Seorang petani di Gunung Binjai, Teritip, Agus (36), beranggapan kenaikan harga ini bukan sekadar angka di papan SPBU, melainkan ancaman terhadap keberlangsungan lahan 3 hektare yang sedang digarapnya.
Sebab kenaikan harga bahan bakar ini tidak selalu berbanding lurus dengan harga hasil pertanian di pasar.
"Sekarang Rp100 ribu itu cuma dapat 4 liter lebih sedikit. Dipakai kerja saja tidak sampai satu hari penuh," keluh Agus.
Sebelumnya, dengan modal Rp100 ribu, bisa mendapatkan lebih banyak kuantitas bahan bakar untuk menghidupi mesin traktornya lebih lama.
Agus pun tinggal hanya dihadapkan satu pilihan. Alih-alih mengurangi durasi kerja, dia terpaksa harus menambah modal lebih banyak.
"Soalnya butuhnya 5-10 liter. Itu sudah pasti. Mau BBM semahal apa pun, mesin tetap makan solar dengan jumlah yang sama, tidak jadi lebih irit," imbuhnya.
Persoalannya, kondisi petani hortikultura seperti Agus jauh lebih rentan dibanding pedagang komoditas lain. Produk seperti cabai, melon, dan sayur-sayuran memiliki masa simpan yang sangat pendek.
Hal ini menurut Agus membuat petani tidak punya daya tawar untuk menaikkan harga jual meskipun biaya produksi membengkak.
"Kalau barang sembako mungkin bisa ditahan atau ditimbun. Kalau di pertanian tidak bisa. Barang banyak, ya harga pasti murah. Kami harus cepat jual karena kalau disimpan ya busuk," jelas pria yang juga merupakan atlet bela diri Sambo ini.
Situasi ini membuat keuntungan petani tergerus secara langsung. Meski tidak menghitung secara rinci, Agus mengaku seluruh pemasukan yang diperoleh selama ini langsung diputar kembali untuk modal.
Selain soal harga, Agus mengeluhkan distribusi BBM di Balikpapan. Menurutnya, ada ketimpangan akses solar subsidi antar wilayah di Balikpapan.
Seperti diketahui, mulai dari Sepinggan hingga perbatasan Kukar, keberadaan BBM subsidi sudah lama tak masuk ke SPBU.
Alhasil petani di Teritip seakan dipaksa menggunakan Dexlite karena aturan pembelian solar subsidi menggunakan jerigen jelas tak dibolehkan.
Sementara itu, kata Agus, membawa mesin traktor langsung ke SPBU yang melayani penjualan solar subsidi adalah hal yang mustahil.
"Kalau kami harus mengantre ke Kilo (Balikpapan Utara), itu jaraknya jauh dan antrenya lama sekali. Bisa-bisa barang kami keburu busuk di jalan," tambahnya.
Misalnya, di SPBU KM13, Agus harus menempuh kurang lebih 37 kilometer dari kawasan Gunung Binjai, Teritip. Belum lagi harus memakan waktu untuk mengantre yang bisa saja tidak sebentar.
Agus berharap Pemerintah Kota Balikpapan dan Pertamina memberikan solusi konkret bagi para pejuang pangan di Balikpapan Timur.
Dia menilai ada dua opsi yang menyelamatkan petani, yakni menurunkan lagi harga Dexlite atau memperluas distribusi solar subsidi hingga pelosok Balikpapan.
Ia mengusulkan adanya jalur khusus atau sistem verifikasi bagi petani agar bisa mengakses BBM subsidi dengan lebih mudah.
Setidaknya kata Agus, ada tempat khusus atau jalur jerigen dengan menunjukkan kartu khusus, mengingat ini untuk penggunaan traktor.
"Kami butuh uang untuk putaran modal lagi. Kalau maksa cari solar subsidi, habis makan waktu. Sementara Dexlite, aduh, terlalu mahal," pungkasnya. (zyn)


